Category: Ilmiah Populer

PENANGANAN BANJIR LOKAL KOTA SOLO

OLEH : BUDI SETIYARSO

ASISTEN PUSAT STUDI BENCANA UNS

DIMUAT DI SOLOPOS, 19 MEI 2010

Akibat adanya El Nino, musim penghujan di Indonesia mengalami kemunduran sekitar dua bulanan.

Dampaknya, Mei ini, dapat dipastikan banjir masih akan menjenguk Kota Solo.

Tulisan ini lebih difokuskan pada penanganan banjir lokal di Kota Solo. Kota Solo memang sering diterpa banjir lokal. Meskipun banjir lokal memiliki karakteristik magnitude yang kecil, berdurasi cepat dan daerah penggenangan sempit, namun kehadirannya dirasa cukup meresahkan karena mayoritas banjir lokal berada di tengah kota. Banjir ini sangat mengganggu aktivitas ekonomi perkotaan khususnya transportasi.

Banjir lokal terjadi akibat guyuran air hujan di dalam Kota Solo yang mengakibatkan aliran permukaannya lebih besar daripada daya tampung saluran sistem mikro yaitu saluran tersier dan kuarter kota. Dengan kata lain, banjir ini disebabkan karena hujan yang terjadi di dalam Kota Solo sendiri. Mengingat permasalahan ini, idealnya tanggung jawab penanganan banjir lokal dilakukan sepenuhnya oleh warga kota di bawah manajemen Pemkot.

Daerah yang sering dijenguk banjir lokal di Kota Solo adalah Karangasem tepatnya di persimpangan Jalan Slamet Riyadi dengan Jl Sawo, sekitar Stasiun Purwosari, di depan Taman Sriwedari ke arah utara hingga Timuran, di Jayengan tepatnya sekitar Singosaren Plaza, Gajahan, Gladag dan Kadipiro yaitu sekitar Jl Mr Sartono ke arah utara. Banjir lokal terbesar yang pernah tercatat adalah banjir tahun 1978 yang lokasinya mencakup seluruh daerah yang biasa tergenang seperti disebutkan di atas ditambah lokasi lain sebagai berikut: Jayengan sekitar Jl Honggowongso, Gading, sepanjang Jl Kapten Mulyadi yang berada di timur Keraton, sekitar Kali Jenes Joyosuran, Jl Juanda di Jagalan, Jl RE Martadinata di Gandekan, Jl Jenderal Ahmad Yani di Gilingan dan daerah lain seperti di Manahan, Sumber, Nusukan dan Banyuanyar.

Yang dilakukan

Sejak zaman Kerajaan berdiri, penanganan banjir memang menjadi fokus utama. Lokasi pendirian keraton yang sebelumnya disebut Desa Sala memang merupakan daerah rawa yang becek dan tanahnya tidak rata. Maka, untuk menghindari penggenangan yang bersifat lokal dilakukan pengurukan (reklamasi). Pengurukan terbesar yang tercatat yaitu di Baluwarti bagian timur, Kedunglumbu, Kepatihan, Tambak Segaran dan sepanjang Jl Slamet Riyadi. Selain itu juga dilakukan pengurukan sungai tengah kota yang melintas dari Purwosari hingga Sangkrah.

Upaya lain yang dilakukan yaitu proyek pemurnian aliran lokal dari aliran kiriman daerah hulu dengan memotong hulu Kali Jenes kemudian dialirkan ke banjir kanal selatan (Kali Tanggul) dan memotong hulu Kali Pepe kemudian dialirkan ke banjir kanal utara (Kali Anyar). Oleh karena itu, aliran Kali Jenes dan Kali Pepe Hilir yang sekarang ini adalah aliran murni akibat hujan yang terjadi di dalam Kota Solo, dengan syarat pintu air Tirtonadi ditutup untuk Kali Pepe.

Pembangunan sistem drainase tersier dan kuarter awal mulanya dibangun di dalam Keraton yang disebut jagang. Kemudian pembangunan drainase ini merembet ke arah barat dan utara. Perkembangan sistem drainase selanjutnya dibagi ke dalam dua sistem yaitu sistem utara di bawah manajemen Mangkunegaran dan sistem selatan di bawah manajemen Kasunanan dengan Jl Slamet Riyadi sebagai batasnya. Pada masa pemerintahan Mangkunagoro VI, sistem drainase utara dibangun secara besar-besaran yang diset untuk banjir dengan periode ulang tinggi, terbukti saluran-salurannya berkapasitas besar. Proyek ini berlangsung hingga masa Mangkunagoro VII. Sedangkan PB X, di sistem selatan, lebih memfokuskan pada permasalahan banjir kiriman daripada banjir lokal. Oleh sebab itu, sistem drainase mikro utara lebih baik daripada sistem drainase selatan.

Sistem drainase Kota Solo dibagi ke dalam empat daerah pengaliran yaitu Bengawan Solo, Kali Pepe Hilir, Kali Anyar dan Kali Premulung. Daerah pengaliran ini dibagi ke dalam sub-sub daerah pengaliran. Bengawan Solo memiliki sub-Semanggi, sub-Jebres dan sub-Mojosongo. Kali Pepe Hilir memiliki sub-Kali Jenes, sub-Keprabon dan sub-Kepatihan. Kali Anyar memiliki sub-Kali Sumber, sub-Kali Pepe Hulu dan sub-Kali Anyar sendiri. Kali Premulung memiliki sub-Kali Premulung dan sub-Kali Wingko. Di antara daerah pengaliran ini yang memiliki tingkat potensi banjir lokal tertinggi adalah daerah pengaliran Pepe Hilir khususnya sub-Kali Jenes. Perlu perhatian lebih terhadap daerah pengaliran ini.

Yang ditawarkan

Permasalahan banjir lokal sebenarnya terkait dengan tiga hal utama, yaitu saluran, relief mikro dan penggunaan lahan.

Untuk mengatasi permasalahan tersebut, kita dapat mengadopsi penanganan dengan metode Roy Ward dalam bukunya yang berjudul Floods, a geographical perspective dengan pendekatan protection, adjustment dan abatement untuk banjir lokal. Metode ini dapat berjalan dengan baik jika Pemkot bekerja sama dengan warga Kota Solo karena penanganan ini berkaitan dengan kepentingan semua pihak. Perlu adanya Perda yang mengatur hak dan wewenang masyarakat dalam kegiatan mitigasi bencana banjir.

Pendekatan protection (perlindungan diri) diadopsi dengan upaya normalisasi saluran, penambahan kapasitas saluran dan pembuatan saluran baru. Beberapa kegiatan dapat dilakukan dengan sistem kerja bakti. Hal lain yang menjadi pokok utama adalah upaya penyelamatan jalan raya dari penggenangan. Prinsip yang harus diterapkan dalam sistem drainase jalan raya adalah jalan utama harus lebih tinggi dari jalur lambat. Banyak ditemui jalan utama dan jalur lambat di Kota Solo yang memiliki ketinggian yang sama, khususnya di Jl Slamet Riyadi. Padahal jika jalur lambat lebih rendah dapat berfungsi sebagai daerah penampungan genangan.

Pendekatan adjustment (penyesuaian diri) merupakan hak warga kota untuk melindungi daerah pekarangan rumahnya dari banjir yang dapat diatur melalui Perda. Salah satu metode adjustment yang dapat diadopsi adalah model flood proofing seperti meninggikan bangunan rumah, melakukan pengurukan pekarangan dan menggelontorkan aliran permukaan di pekarangannya secepat mungkin ke saluran drainase sekitarnya.

Pendekatan terakhir yaitu abatement, merupakan upaya meredam aliran permukaan dari pekarangan rumah masing-masing. Pendekatan ini merupakan kewajiban warga kota untuk mempertanggungjawabkan atas aliran permukaan dari pekarangan rumahnya sebagai upaya untuk meminimalisasi aliran keluar dari pekarangan. Kewajiban ini dapat ditempuh dengan pembuatan penampungan sementara dengan wujud sumur resapan atau kolam penampungan.

SIAGA BANJIR KIRIMAN DI SOLO

Oleh : Budi Setiyarso (Asisten Peneliti PSB)

Dimuat di Joglosemar, 18 Maret 2010

Musim penghujan tahun ini mengalami kemunduran sekitar dua sampai tiga bulan karena terpengaruh peristiwa El Nino di Samudra Pasifik. Dampaknya, bulan Desember yang biasanya menjadi klimaks hujan di Indonesia, justru menjadi start musim penghujan tahun ini. Dengan gambaran ini, besar kemungkinan klimaks curah hujan Indonesia terjadi pada bulan Maret 2010 ini.
Bulan Maret adalah bulan siaga banjir Kota Solo, di mana satu bulan sebelumnya banjir sudah menjenguk Jawa Timur dan Jawa Barat. Pada dasarnya banjir Solo dapat dibagi menjadi dua tipe. Tipe pertama adalah banjir kiriman dari arah Gunung Lawu, dari arah Perbukitan Seribu, serta dari arah Merapi dan Merbabu yaitu DAS Brambang, Dengkeng dan Pepe. Tipe banjir ini membahayakan Kota Solo yang lokasinya berada di cekungan antargunung-gunung tersebut (intermountain basin). Sifat banjir kiriman magnitudonya besar, luas dan durasinya lama sehingga membahayakan. Lokasi yang diterjang adalah daerah pinggir kota yang khususnya berdekatan dengan sungai primer (Bengawan Solo) dan sungai sekunder (Kali Anyar, Pepe, Premulung).
Tipe kedua adalah banjir lokal yang merupakan penggenangan akibat luapan dari Kota Solo sendiri. Banjir ini memiliki magnitudo kecil, sempit dan cepat. Namun karena lokasinya biasanya di tengah kota, sehingga cukup mengganggu aktivitas ekonomi dan transportasi. Tipe banjir inilah yang sering terjadi belakangan ini. Lalu akankah terjadi banjir kiriman seperti tiga tahun lalu?
Banjir besar yang tercatat sebelumnya terjadi tahun 1993 yang menyebabkan genangan di sepanjang Kali Tanggul, Kali Jenes, sekitar percabangan Kali Anyar dan Kali Sumber serta muara Kali Pepe. Setelah tahun 1993 tidak tercatat lagi banjir yang signifikan sampai dengan banjir tahun 2007 terjadi.
Hasil penelitian penulis menyebutkan bahwa 46 persen Kota Solo terbentuk karena proses banjir yaitu daerah Kerten, Laweyan dan Manahan ke arah timur hingga Bengawan Solo. Sedangkan sisanya 18 persen terbentuk karena proses vulkanisme Merapi yaitu daerah Kerten, Laweyan dan Manahan ke barat. Sementara 36 persen terbentuk karena proses struktural (pengangkatan) yaitu daerah Jebres, Nusukan, Mojosongo dan Kadipiro.
Membahayakan
Kondisi morfologis dan geologis Kota Solo memang menunjukkan kondisi yang membahayakan. Namun hal ini dibarengi dengan kuatnya infrastruktur perlindungan banjir khususnya yang dibuat pada Zaman Kerajaan Surakarta, mengingat secara historis kota ini berperan sebagai ibukota kerajaan.
Infrastruktur perlindungan banjir Kota Solo terbesar adalah pelurusan Bengawan Solo yang dilakukan pada masa PB III. Pembangunan dua sistem banjir kanal, yaitu Kali Anyar dan Kali Tanggul yang dibangun pada masa PB X. Serta dua sistem tanggul yaitu tanggul Kali Anyar dan Bengawan Solo yang dibangun pada masa PB X juga. Kelemahan dari penanganan model protection (infrastruktur banjir), adalah sifatnya yang hanya memindahkan banjir, dan bukan mengentaskan banjir. Baik memindahkan banjir dalam Kota Solo maupun di luar Kota Solo.
Sebagai contoh pelurusan Bengawan Solo pada masa PB III. Bengawan Solo yang sebelumnya melewati Semanggi dalam rangka melindungi Keraton Kasunanan, akhirnya diluruskan ke arah timur Semanggi. Pemindahan ini secara tidak langsung telah merugikan daerah Sangkrah dan Kampung Sewu yang merupakan hilir proyek pelurusan tersebut.
Kampung Sewu juga menjadi korban pelurusan Bengawan Solo kedua bersama dengan Pucang Sawit dalam proyek Upper Solo River Improvement, antara Nguter hingga Jurug. Proyek pelurusan tersebut tidak begitu optimal di Kota Solo akibat sulitnya pembebasan lahan. Pelurusan dari Nguter hingga Bacem sangat optimal terbukti dengan bentuk sungai yang optimal lurus namun di Kota Solo tidak sama sekali. Bengawan dari daerah Sangkrah hingga Pucang Sawit masih banyak ditemui meandering sungai yang menghambat arus pembuangan air dan bahkan di Kampung Sewu masih terdapat alur yang menikung hingga 90 derajat.
Jika dilihat dari pembangunan banjir kanal utara (Kali Anyar) yang berfungsi melindungi tengah kota dari luapan Kali Pepe, juga merugikan daerah lain. Proyek ini mengorbankan daerah yang dilewati banjir kanal tersebut. Begitu juga banjir kanal selatan (Kali Tanggul) yang berfungsi menyudet Kali Jenes dan dialirkan lurus ke Bengawan Solo. Banjir kanal selatan ini merugikan daerah Joyontakan yang lokasinya berbatasan dengan Kali Tanggul.
Selain itu, kondisi fisik Joyontakan yang berupa cekungan dan memiliki beda tinggi yang minim dengan Kali Tanggul menjadikan Joyontakan berpotensi tinggi kebanjiran dari luapan Kali Tanggul atau back water Bengawan Solo yang melalui Kali Tanggul. Jadi wajar jika Pucang Sawit, Kampung Sewu, Joyotakan dan Sangkrah merupakan daerah yang paling rentan banjir di Kota Solo, karena daerah ini merupakan daerah yang dikorbankan.
Daerah-daerah yang dikorbankan ini perlu penanganan lebih untuk mencapai keadilan pembangunan. Program relokasi yang dijalankan pemerintah cukup membantu sebagai bekal dalam rangka perlindungan daerah ini, yaitu dengan proyek ulang pelurusan Bengawan Solo dari Joyontakan hingga Jurug.
Namun jika model perlindungan ini selalu ditingkatkan hingga mendapatkan model perlindungan yang ideal bagi seluruh wilayah Kota Solo, hal itu pun akan merugikan pihak di hilir Kota Solo yang merupakan daerah pembuangan banjir Kota Solo yaitu Kebakkramat (Karanganyar), Sragen hingga Ngawi. Jika Sragen atau Ngawi memperbaiki infrastruktur perlindungan banjirnya, maka daerah di bawahnya yang kena. Begitu seterusnya hingga muara Bengawan Solo. Perlombaan melindungi diri sendiri dan mengorbankan pihak lain seperti ini bukanlah solusi yang baik.
Penanggulangan banjir  model kedua adalah adjustment (penyesuaian diri), yaitu dengan menyesuaikan manusia dari daerah banjir. Salah satu metode yang mengadopsi konsep ini adalah program relokasi yang sudah diterapkan Pemkot Solo terhadap permukiman di daerah bantaran.
Untuk menjalankan model adjustment di Kota Solo secara ideal memang sulit, karena kota ini terlanjur sesak permukiman. Guna melengkapi hal ini, perlu dikembangkan metode ketiga yaitu dengan pendekatan ekologis dengan cara meredam banjir dari daerah hulu (abatement). Penanganan model ini perlu adanya kerja sama antara Pemkot Solo dengan Pemkab di hulu Bengawan Solo. Pemkot Solo juga harus bertanggung jawab terhadap upaya abatement yang dilakukan di hulu, meskipun bukan di daerah pemerintahannya.

RISK TRADING DALAM PENGELOLAAN BANJIR LINTAS DAERAH

Oleh: Yasin Yusuf (Bidang Pencegahan dan Mitigasi Bencana PSB-LPPM UNS)

Read more »

BANJIR KOTA SOLO TIDAK IDENTIK DENGAN BANJIR KIRIMAN DARI WONOGIRI

Kota Solo dari arah Timur

Kota Solo dari arah Timur

Read more »